Before I Die - Rekonstruksi Kematian

Ini dia EP album yang dirilis pada tahun 2011, ini hasil karya barudak Bandung, band yang beralin brutal death metal ini bernama "Before I Die".
Di dalam album ini disajikan kegelapan yang ada pada sisi brutal death metal yang dikeluarkan oleh masing -  masing personil. Di track pertama yang merupakan, kita sudah diajak untuk headbanging, permainan yang cukup rapih boleh saya bilang, kasarnya betotan bass terdengar menghatam bersautan dengan raungan gitar yang membahana. Beralih ke lagu selanjutnya yang berjudul "Sebelum Aku Mati" yang berdurasi 2 menit 58 detik ini, diawali distorsi gitar kasar, dilanjutkan dengan growl yang menghentak seperti tercekik, ini lah ciri khas death metal yang sering didengar, beat and blast drum bersautan, mungkin lebih mirip terinfluence oleh Jasad yang lebih dahulu meramaikan dunia death metal.
Lagu ketiga  yang berjudul "Emosi Jiwa Membara" benar - benar membikin emosi jiwa menjadi membara, bayangkan saja hentakan beat drum yang cepat dipadu dengan gulungan distorsi gitar, ditambah cabikan bass, dan pekiknya growl yang keluar membuat semuanya terasa gila dan muak. Yeah, saya suka beat yang ada di lagu ini. Beralih ke lagu selanjutnya "Pembataian Sang Pendusta" tidak ada yang aneh di lagu ini, karena masih ada dalam pakem brutal death metal yang sebagai mana mestinya. Yang membuat asik untuk headbanging adalah kembali ketukan beat drum yang menggema, namun terdengar sedikit pengaruh dari grindcore di beberapa bagian.
Untuk lagu pamungkas yang berjudul "Reconstruction of Murder" lebih terdengar dan membawa aroma chaos lebih dalam, patut untuk dijadikan sebagai lagu andalan untuk didengarkan, membayangkan kalau circle pit dengan lagu ini mugkin bakal terasa afdol. Untuk album ini mungkin sekian dulu, sampai ketemu lagi di review yang berikutnya. Hails \m/

Kemana Saja? Menulis Lagi

Lama, memang waktu yang tidak sebentar untuk menunggu pencerahan dan memberikan semangat untuk menulis kembali. Entah kemana perginya ide - ide, bahkan kemuakan yang sering menimbulkan pencerahan untuk saya menulis.
Banyak, bahkan mungkin terlalu banyak bagi saya waktu yang terbuang begitu percuma, tak digunakan sebiasanya, pelampiasan yang sangat tidak layak dilakukan oleh seorang mahasiswa semester 5 yang selalu saya lakukan. Tidur, kegiatan yang merupakan tempat terjadinya proses penyembuhan dan perkembangan bagi tubuh manusia, penyumbuhan bagi jiwa saya yang tidak tahu lagi cara apa yang harus saya lakukan guna menghadapi semua yang terjaik, baik, buruk, apa saja. Perkembangan, mungkin sudah tidak terlalu mencolok bagi saya yang sudah mencapai usia kepala dua ini, pertumbuhan apa lagi yang harus dilanjutkan?
Semuanya, keinginan melawan diri yang tak kunjung mampu, rentetan segala yang ada. ah sudahlah.
Kedepannya, mungkin akan lebih rajin lagi. Doakan!

Burgerkill Concert "Venomous Alive"





















Siliwangi Stadium, Bandung
September, 24th 2011
Di acara ini saya kembali turun ke moshpit area dan ikut pogo juga.
Bloody awesome show

Titik Putih? Adakah?

Cahaya..
Menimbulkan kegelapan dalam diri
Menasibihkan ketidakmampuan diri
Angan yang jadi boomerang
Melawan altar ego dalam diri yang kian menggelora

Hitam...
Menerangkan kepasrahan diri
Mencerahkan kegundahan alami yang terbuai akan nafsu neraka
Kelam pekat darah yang hitam suci
Mengukung kebebasan yang semakin bebas terasa

Kelam..
Pekatkan jiwa dalam balutan bau neraka
Membakar raga yang terlilit oleh keputusasaan
Ringkih batin tak seperti raga yang terlihat tegar
Cara yang memudarkan mimpi buruk

Kemurungan
menanti di setiap sudut ruangan jiwa yang nampak
Kekalahan atas diri sendiri
Berdiri di tengah bangkai batin sendiri yang makin membusuk
terkutuk....

Tuhan, aku ingin ..........

Bakar - bakar - bakar























Bandung, 14 September 2011

Makan Gak Makan Asal Ngumpul? Ketinggalan Zaman?

Sudah lama dan mungkin sudah mengakar di kehidupan masyarakat Indonesia, istilah "makan gak makan asal ngumpul" sudah bersemayam lama dipikiran mereka. Menjadikan sebuah kebersamaan, naik rasa lapar maupun rasa puas.
Gak memandang apa itu table manner yang ada hanya rasa solidaritas tinggi yang dijunjung. Rasa solidaritas itu memang membuat rasa gotong royong menjadi hal yang lumrah bagi beberapa masyarakat, terutama bagi masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai - nilai kearifan lokal.
Apa masih "in" kalo slogan "makan gak makan asal ngumpul" pada saat ini? Itu mejadi jawaban yang relatif bagi tiap - tiap orang. Setiap orang mempunyai interpretasi yang berbeda mengenai hal ini, opini pribadi saya sih mengenai kata ini sudah tidak laku lagi.
Banyak alasan yang mendorong saya bahwa hal tersebut memang sudah layak tidak saat ini. Lihat saja, orang - orang mulai hidup lebih individualistis, dan mengesampingkan hal - hal yang menjunjung tinggi rasa kebersamaan. Kecenderungan yang lain adalah orang - orang lebih sering bekerja sama dalam hal yang bersifat negatif. Untuk hal positif dirasa sangat kurang.
Orang - orang sekarang lebih mementingkan kepentingan pribadi, dan mengendalikan kepentingan orang banyak demi kepentingan pribadi mereka sendiri.

Bayangan (Bukan Bayangan Cermin)

Bayangan...
Jelas sekali, setiap orang dengan tubuh sekecil tikus atau sebesar gajah bakal mempunyai bayangan yang aku selalu bersamanya ketika ada cahaya yang meneranginya. Bayangan yang muncul selalu berwarna gelap jarang sekala ada bayangan seseorang yang memiliki warna yang cerah, meskipun cahaya yang menyinari tubuh orang tersebut berkelap-kelip dan juga berwarna-warni.
Lupakan saja dulu ilmu-ilmu eksak yang telah masuk ke otak, hukum cahaya atau pun sebagainya. Bayangan yang membentuk tubuh kita meskipun tidak secara persis sama, namun yang jelas bayangan itu berwarna gelap, ini mengindikasikan bahwa di setiap benda memiliki sisi gelap.
Ya, sisi gelap ini lah yang kerap terlupakan dan mungkin akan selalu terlupakan.

Semakin Gelap

Kemampuan diri ini hanya memaki
Tanpa kekuatan
Jiwa kerdil, dan kian berkarat kian menjadi
Cacat jiwa semakin terlihat nyata
Lawan besar yang kasat mata
Membutakan batin
dan jiwa ini semakin terpenjara
Kian mendalam
dan lebih kelam
Jatuh terhayut memang sudah suratan
Tapi bukan ini yang diinginkan
Melawan ketidakmampuan diri ini
Sia - sia
Putus Asa
Tak ada harapan yang terpancar
Semuanya telah terkubur dalam jiwa yang berkarat
Menajam sudah luka di jiwa
Luka di raga tak seperti luka di jiwa
Lebih menyedihkan dan merasa terasingkan
Menua namun tak beranjak dari kotak
Tetap konstan dengan keadaan yang sama
Kemuakan dimakan sendiri
Kehancuran sudah menanti atau bahkan sudah dimulai
Tak ada jawab pasti
hanya mungki dan tak mungkin

Semakin dilawan, semakin kuat untuk ditantang
Kerdilkan jiwa dalam batin yang kian terkukung
Tak pernah mengerti jawaban yang dicari
buta akan hidup ini
tapi tidak ingin mengakhiri

Hidup ini terasa sia - sia
Semakin terpuruk dan terlilit
Ketidakmampuanku melawan diriku sendiri
Fuck!
Aku tak pantas.

Aku ini karat yang semakin berkarat
Menimbulkan luka yang mematikan
Tak ada!
Hilang!
Kelam!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

BB 2316

Malam semakin lelap dan menusuk
Tak terlihat bulan menunjukkan pucatnya
Ku kurangi hidup ini
dengan menghabisi si jernih dalam kantong
tanpa menghiraukan masa depan yang tak tentu

Diantar si jernih dan si hitam pekat
mengkamuflasekan kepahitan tersembunyi
butiran yang bisa menimbulkan luka


Berkencan dengan nyala lampu
bercerita,
membuat badan ini mulai kaku dan terpaku
Gundah gulana
tenang namun beriak
kembali menemukan ritme yang sama

Tak tentu arah yang dituju
sempat memutuskan jalan
Lalui dan nikmati

Kelam Mencekam

Ketika sayap tak mampu lagi terbang
Ketika kaki tak mampu lagi menopang
Namun jalan panjang masih membentang
Harus dilalui penuh halang rintang

Suara merdu menyayat memaki
Memanggil isi hati yang mulai sunyi
Membukakan lembaran keji
Yang setiap hari tak henti menari

Kegelapan mulai menghitam
Tangan semakin kuat menggenggam
Masa depan sulit diterkam
Mimpi yang terpancar mulai kelam

Letupan angin kuat memaki
Menusuk luka di sanubari
Mengeluarkan pedihnya mati
Lepas diri dari Ilahi

Semua berteriak, kamu....
kamu....
itu sampah....
Kotoran yang membusukkan mata
Menghilangkan rasa dan membekukan jiwa

Kematian enggan menjemput
Menjalani hidup pun tak terurut
Hidup carut marut
Dosa menunggu maut